Oleh: moulthe13th | Juli 24, 2011

Naturalisasi, Sebuah Kemunduran atau Justru Sebuah Kemajuan

Saat ini persepakbolaan Indonesia sedang marak dengan pe-naturalisasian pemain. Naturalisasi pemain bisa diartikan memberikan paspor atau kewarganegaraan Indonesia kepada pesepakbola dari negara lain.
Tujuannya apa ? Dalam dunia sepakbola jelas untuk mengatrol kualitas timnas negara yang menaturalisasi.
Bolehkah ? Secara hukum dalam peraturan FIFA boleh selagi pemain tersebut belum pernah membela timnas senior negara asalnya.

Saat ini Indonesia sudah memiliki 5 pesepakbola hasil naturalisasi. Mereka adalah Cristian Gonzales, Kim Kurniawan, Diego Michiels, Ruben Wuarbanaran dan Joey Suk.
Pasti ada yang protes. Hei kurang 1, Irfan Bachdim ! Tidak tidak, Irfan bukan pemain naturalisasi. Dia adalah pemegang kewarganegaraan ganda. Seseorang yang lahir dari perkawinan campur akan memiliki 2 kewarganegaraan saat berusia 18 tahun, kecuali di beberapa -negara termasuk Indonesia- yang tidak memperbolehkan kewarganegaraan ganda, maka orang tersebut harus melepas salah satu kewarganegaraannya. Irfan Bachdim melepas kewarganegaraan Belandanya saat memutuskan ingin bermain di timnas Indonesia. Jadi sudah jelas seorang Irfan Haarys Bachdim bukan pemain naturalisasi. Berbeda dengan pemain naturalisasi lainnya (kecuali Gonzales) yang sama-sama memiliki darah Indonesia tetapi sudah melepas status WNI-nya. Sehingga harus dinaturalisasi ketika memutuskan ingin membela timnas Indonesia.

Pro dan kontra mengiringi proses naturalisasi pemain-pemain ini. Karena memang PSSI tidak hanya berhenti di 5 pemain tersebut. Sederet nama sudah diincar oleh PSSI untuk dinaturalisasi. Pihak yang kontra menilai proses naturalisasi akan mematikan bakat-bakat muda lokal. Mereka tidak akan mendapat kesempatan membela timnas karena posisinya sudah diambil oleh barisan pemain naturalisasi. Suara menentang naturalisasi semakin kencang saat PSSI berencana menaturalisasi pemain belakang persipura asal Nigeria, Victor Igbonefo. Mereka mengganggap hal tersebut memalukan karena dari 250 juta penduduk Indonesia masa tidak ada pemain yang berkelas hingga harus menaturalisasi pemain asing. Mereka lantas menyalahkan PSSI yang dianggap tidak becus menangani pembinaan pemain muda, sehingga memilih jalan pintas untuk mencapai prestasi.
Pihak yang pro terhadap naturalisasi pemain asing memiliki pandangan berbeda. Mereka merasa sudah jenuh menunggu lahirnya timnas yang hebat. Bayangkan, hanya untuk level Asia Tenggara saja Indonesia tidak pernah menjadi juara. Mereka sudah capek bersabar pada kualitas pemain-pemain Indonesia yang tidak kunjung membaik dari waktu ke waktu. Mereka sudah muak melihat permainan timnas yang selalu monoton dengan umpan-umpan lambungnya yang mudah sekali dipatahkan lawan. Masih segar dalam ingatan saya ada seorang suporter merah putih yang turun ke lapangan dan merebut bola untuk diceploskan ke gawang Oman pada pertandingan Kualifiakasi Piala Asia. Benar-benar cerminan kejengkelan suporter terhadap kualitas timnas Indonesia. Pihak pro beranggapan dengan menaturalisasi pemain asing maka Indonesia akan memiliki timnas yang mereka impikan, yaitu sebuah timnas yang tanggung, yang mampu berbicara di level internasional. Toh hal tersebut juga dilakukan oleh tim juara dunia seperti Jerman, Italia dan Prancis.

Menurut pandangan saya -bukannya ingin memihak kepada salah satu kubu- bahwa naturalisasi pemain asing memang dibutuhkan oleh persepakbolaan Indonesia. Tetapi tujuannya bukan sebagai jalan pintas meraih prestasi, tetapi untuk meningkatkan kualitas pemain-pemain Indonesia.

Hadirnya pemain-pemain naturalisasi di timnas Indonesia dengan sendirinya akan meningkatkan standar kualitas dalam perebutan posisi di timnas. Pemain-pemain muda harus berlatih lebih keras agar bisa menembus timnas yang sudah ditempati oleh pemain-pemain naturalisasi, yang memang secara kualitas mereka berada di atas pemain-pemain lokal Indonesia. Ketika orang-orang berteriak terhadap naturalisasi dengan alasan akan mematikan pemain-pemain muda Indonesia, sebenarnya mereka justru meremehkan kualitas pemain-pemain muda Indonesia. Apakah artinya pemain-pemain muda Indonesia tidak akan mungkin bisa masuk timnas karena mereka pasti kalah bersaing dengan barisan pemain naturalisasi ? Sebegitu buruk kah pemain-pemain muda yang dimiliki tanah air ini ? Sebegitu burukkah kualitas anak-anak bangsa ini ? Tidak, mereka tidak seburuk itu. Pemain naturalisasi bukanlah tidak mungkin dikalahkan oleh pemain lokal. Mereka semua sama-sama manusia yang bisa belajar dan berkembang. Pemain sepakbola Indonesia tidak dikutuk untuk selalu memiliki kemampuan di bawah pemain asing. Mereka mampu !
Buktinya mana ? Jawaban saya adalah : tolong tunjukkan 1 striker asing di Liga Indonesia yang lebih hebat dari Boaz Solossa ? Jika memang ada yang lebih hebat, kenapa Boaz sering menjadi Top Score di Liga Indonesia ?
Boaz telah membuktikan bahwa pemain lokal juga bisa lebih baik dari pemain asing di Indonesia. Dia telah mengalahkan nama-nama seperti Cristian Gonzales, Aldo Baretto, Greg Nwokolo dll.

Menyelesaikan sebuah masalah bukanlah dengan cara membuat masalah tersebut menjadi kecil, tetapi perbesarlah kemampuan dan kualitas kita agar kita mampu memecahkan masalah tersebut.
Bukan dengan menurunkan kualitas persaingan di timnas dengan mengharamkan pemain naturalisasi tetapi bekerjalah lebih keras pemain-pemain lokal Indonesia, agar mampu mengalahkan para pemain naturalisasi dalam perebutan posisi di timnas.

Terbanglah yang tinggi Garudaku!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: