Oleh: moulthe13th | Juli 3, 2011

Alfred Riedl Menuai Kritik dan Hujatan

Selepas mengumumkan skuad Timnas Senior dan U-23 Indonesia, Pelatih Kepala Alfred Riedl menuai banyak kritik pedas dan hujatan dari masyarakat pecinta sepak bola Indonesia. Hasil dari pantauan di goal.com, lebih dari 300 komentar terhadap berita ini, sekitar 90% menghujat dan mengkritik keputusan Riedl. Di situs jejaring sosial Facebook telah muncul group “1.000.000 aksi dukung Jacksen F. Tiago menjadi pelatih Timnas Indonesia”, akibat dari kekecewaan skuad pilihan Riedl. Belum ditambah dari obrolan2 masyakat yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Banyak faktor yang melatarbelakangi kekecewaan pecinta sepak bola tanah air. Mulai dari hanya 3 pemain sang kampiun ISL yang masuk skuad timnas senior, tidak adanya pemain LPI yang sudah mulai dirangkul oleh Komite Normalisasi (KN), tidak adanya 3 nama pemain naturalisasi teranyar Indonesia di tim U-23, masih munculnya nama-nama lama yang meredup dalam ISL musim ini, munculnya nama-nama baru yang kualitasnya tidak mumpuni serta tidak dipanggilnya beberapa pemain lama yang bersinar di ISL musim ini.

Sebuah kabar gembira hanya dengan dipanggilnya kembali striker terbaik Indonesia, Boaz Solossa. Aksi impresifnya di ISL sehingga namanya tercatat sebagai top score dan best player menjadi alasan yang sangat pantas Bochi diberi kesempatan kedua untuk membela timnas. Inilah pemain pertama dari kampiun ISL, Persipura. Siapa 2 pemain lainnya? Jawabannya adalah Ricardo Salampesy dan Hamka Hamzah. Apa sebenarnya yang ada di dalam benak Riedl memanggil 2 pemain yang sedang bergelut dengan cidera dan tidak tampil maksimal sepanjang musim. Kenapa juga tidak ada nama Gerald Pangkali sang penyeimbang lapangan tengah Persipura yang bermain konsisten sepanjang musim. Kenapa juga Titus Bonai tidak diberi kesempatan kedua seperti halnya Bochi. Tibo memang tidak meraih gelar pribadi, tapi dia sering melahirkan gol-gol penting untuk tim-nya melalui aksi individu di atas rata-rata. Belum lagi nama Louis Kabes dan yang lainnya.

Sempat berhembus kabar gembira saat KN mulai merangkul LPI untuk bergabung di PSSI dan mulai dipanggilnya puluhan pemain LPI termasuk Irfan Bachdim, Kim Kurniawan dan Andik Vermansyah dalam seleksi timnas U-23 di bawah asuhan Rahmad Darmawan baru-baru ini. Timnas U-23 ditargetkan untuk meraih medali emas Sea Games, tetapi komposisi pemainnya sangat-sangat meragukan. Yongki Aribowo yang menjadi andalan di lini depan, tidak berhasil menunjukkan penampilan yang menjajikan di ISL musim ini bahkan hanya sekedar menjadi pemain inti. Hal ini sangat bertolak belakang dengan performa dari Irfan Bachdim dan Andik Vermansyah. Kemampuan kedua pemain ini tidak hanya terlihat di LPI tahun ini, yang secara kualitas kompetisi memang jauh di bawah ISL, tetapi sudah terlihat di Piala AFF (Irfan Bachdim) dan ISL serta Divisi Utama musim sebelumnya (Andik Vermansyah). Kenapa pemain ISL tidak dipanggil padahal jelas-jelas kualitas mereka di atas rata-rata? Apa karena mereka bermain di LPI? Ayolah Mr Riedl, jangan memecah belah kembali atmosfer sepakbola Indonesia yang sudah mulai membaik.

Secercah harapan merebut medali emas mulai terlihat kala PSSI menaturalisasi Ruben, Diego dan Joey Suk. Tetapi harapan itu hancur seketika saat Riedl mengumumkan skuad U-23nya. Kenapa nama mereka tidak ada, padahal PSSI sudah resmi mengumumkan bahwa proses naturalisasi mereka sudah beres. Buat apa menaturalisasi mereka jika mereka tidak dipanggil. Apa kualitas mereka masih di bawah nama-nama lain yang masuk skuad U-23 ? Bukankah Riedl sendiri yang memilih dan mereferensikan mereka untuk dinaturalisasi. Atau justru PSSI yang membuat kebohongan publik dengan mengatakan proses naturalisasi mereka sudah beres padahal belum.

Nama-nama seperti Markus Horison yang terkenal dengan blundernya dan musim ini klubnya terperosok ke papan bawah, BP yang tidak berkembang di Timnas belakangan ini, Gonzales yang produktivitasnya menurun tajam. Belum lagi nama-nama seperti Arif Suyono, Eka Ramdhani, M. Roby dan Tony Sucipto yang bermain biasa-biasa saja masih tetap dipanggil. Maksud hati Riedl juga ingin memanggil muka-muka baru untuk regenerasi, tetapi kenapa Gunawan Dwi Cahyo yang kerap membuat blunder di lini belakang dan Wahyu Wiji Astanto yang walaupun pernah berlatih di Belanda bersama team Asian Games serta memiliki tinggi 191 cm tetapi belum teruji kualitasnya bermain di level tertinggi justru dipanggil. Belum lagi membicarakan muka-muka lama yg bersinar tetapi tidak tercantum di daftar pemaian. Sebut saja Budi Sudarsono yang musim ini mencetak 11 gol hanya sebagai pemain cadangan. Dibandingkan BP, jelas prosentase produktivitas per pertandingan Budi jauh lebih bagus. Apalagi berbicara kemampuan memegang bola, melewati lawan dan tendangan-tendangan keras nan akurat.

Memang benar pemilihan pemain menjadi hak penuh Riedl sebagai pelatih kepala dan belum tentu penilaian pecinta sepak bola tanah air juga benar masalah komposisi pemain. Bisa jadi pilihan pecinta sepakbola tanah air hanya berdasarkan like n dislike, penilaian orang awam sepakbola dan fanatisme klub/daerah. Tetapi kenapa kami selalu setuju dengan skuad tim-tim dunia seperti Spanyol, Inggris, Belanda dll. Kami selalu sependapat bahwa mereka adalah pemain terbaik di negaranya. Dan memang, hasilnya pun memuaskan. Atau Riedl akan menjadi Maradonanya Timnas Indonesia, yang memilih pemain-pemain aneh dan terbukti hancur lebur.

Satu-satunya kelebihan Riedl adalah dia pemegang hak penuh penentuan siapa yang akan masuk skuad Indonesia dan pecinta sepakbola tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya (terpaksa) mendukung tim bentukannya. Semoga Tim-tim ini mampu berprestasi dan membanggakan pecinta sepakbola Indonesia. Karena jika gagal sedikit saja sudah pasti hujatan akan lebih deras dari yang ada saat ini.

Berikut adalah skuad timnas senior:

Kiper: Markus Horison (Persib Bandung), Ferry Rotinsulu (Sriwijaya FC), Kurnia Meiga (Arema Indonesia).

Bek: Hamka Hamzah (Persipura Jayapura), Ricardo Salampessy (Persipura Jayapura), Muhammad Roby (Persisam Putra Samarinda), Gunawan Dwi Cahyo (Sriwijaya FC), Wahyu Wiji Astanto (Persiba Bantul), Mohammad Nasuha (Persija Jakarta), Beny Wahyudi (Arema Indonesia), Zulkifli Syukur (Arema Indonesia), Supardi (Sriwijaya FC).

Gelandang: Oktovianus Maniani (Sriwijaya FC), Arif Suyono (Sriwijaya FC), Muhammad Ridwan (Sriwijaya FC), Muhammad Ilham (Persija Jakarta), Firman Utina (Sriwijaya FC), Ahmad Bustomi (Arema Indonesia), Eka Ramdani (Persib Bandung), Tony Sucipto (Persija Jakarta), Egi Malgiansyah (Pelita Jaya).

Striker: Cristian Gonzales (Persib Bandung), Bambang Pamungkas (Persija Jakarta), Boaz Salossa (Persipura Jayapura), Ferdinand Sinaga (Persiwa Wamena).

Berikut adalah skuad timnas U-23:

Kiper: Johan Angga Kusuma, Rifki Deython Mokodompit, Chairul Nasri.

Bek: Abdul Rachman, Irfan Raditya, Septia Hadi, Djayusman Triasdi, Fauzan Djamal, Joko Sidik, Hasim Kipau, Herry Susilo.

Gelandang: Dendi Santoso, Stevie Bonsapia, Zulham Zamrun, Joko Sasongko, Mahadirga Lasut, Johan Juansyah, Hendro Siswanto, Munadi, Dedy Kusnandar.

Penyerang: Yongki Aribowo, Jajang Mulyana, Patrick Wanggai, Rishadi Fauzi, Aris Alfiansyah.

_____________________________________


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: