Saat ini persepakbolaan Indonesia sedang marak dengan pe-naturalisasian pemain. Naturalisasi pemain bisa diartikan memberikan paspor atau kewarganegaraan Indonesia kepada pesepakbola dari negara lain.
Tujuannya apa ? Dalam dunia sepakbola jelas untuk mengatrol kualitas timnas negara yang menaturalisasi.
Bolehkah ? Secara hukum dalam peraturan FIFA boleh selagi pemain tersebut belum pernah membela timnas senior negara asalnya.

Saat ini Indonesia sudah memiliki 5 pesepakbola hasil naturalisasi. Mereka adalah Cristian Gonzales, Kim Kurniawan, Diego Michiels, Ruben Wuarbanaran dan Joey Suk.
Pasti ada yang protes. Hei kurang 1, Irfan Bachdim ! Tidak tidak, Irfan bukan pemain naturalisasi. Dia adalah pemegang kewarganegaraan ganda. Seseorang yang lahir dari perkawinan campur akan memiliki 2 kewarganegaraan saat berusia 18 tahun, kecuali di beberapa -negara termasuk Indonesia- yang tidak memperbolehkan kewarganegaraan ganda, maka orang tersebut harus melepas salah satu kewarganegaraannya. Irfan Bachdim melepas kewarganegaraan Belandanya saat memutuskan ingin bermain di timnas Indonesia. Jadi sudah jelas seorang Irfan Haarys Bachdim bukan pemain naturalisasi. Berbeda dengan pemain naturalisasi lainnya (kecuali Gonzales) yang sama-sama memiliki darah Indonesia tetapi sudah melepas status WNI-nya. Sehingga harus dinaturalisasi ketika memutuskan ingin membela timnas Indonesia.

Pro dan kontra mengiringi proses naturalisasi pemain-pemain ini. Karena memang PSSI tidak hanya berhenti di 5 pemain tersebut. Sederet nama sudah diincar oleh PSSI untuk dinaturalisasi. Pihak yang kontra menilai proses naturalisasi akan mematikan bakat-bakat muda lokal. Mereka tidak akan mendapat kesempatan membela timnas karena posisinya sudah diambil oleh barisan pemain naturalisasi. Suara menentang naturalisasi semakin kencang saat PSSI berencana menaturalisasi pemain belakang persipura asal Nigeria, Victor Igbonefo. Mereka mengganggap hal tersebut memalukan karena dari 250 juta penduduk Indonesia masa tidak ada pemain yang berkelas hingga harus menaturalisasi pemain asing. Mereka lantas menyalahkan PSSI yang dianggap tidak becus menangani pembinaan pemain muda, sehingga memilih jalan pintas untuk mencapai prestasi.
Pihak yang pro terhadap naturalisasi pemain asing memiliki pandangan berbeda. Mereka merasa sudah jenuh menunggu lahirnya timnas yang hebat. Bayangkan, hanya untuk level Asia Tenggara saja Indonesia tidak pernah menjadi juara. Mereka sudah capek bersabar pada kualitas pemain-pemain Indonesia yang tidak kunjung membaik dari waktu ke waktu. Mereka sudah muak melihat permainan timnas yang selalu monoton dengan umpan-umpan lambungnya yang mudah sekali dipatahkan lawan. Masih segar dalam ingatan saya ada seorang suporter merah putih yang turun ke lapangan dan merebut bola untuk diceploskan ke gawang Oman pada pertandingan Kualifiakasi Piala Asia. Benar-benar cerminan kejengkelan suporter terhadap kualitas timnas Indonesia. Pihak pro beranggapan dengan menaturalisasi pemain asing maka Indonesia akan memiliki timnas yang mereka impikan, yaitu sebuah timnas yang tanggung, yang mampu berbicara di level internasional. Toh hal tersebut juga dilakukan oleh tim juara dunia seperti Jerman, Italia dan Prancis.

Menurut pandangan saya -bukannya ingin memihak kepada salah satu kubu- bahwa naturalisasi pemain asing memang dibutuhkan oleh persepakbolaan Indonesia. Tetapi tujuannya bukan sebagai jalan pintas meraih prestasi, tetapi untuk meningkatkan kualitas pemain-pemain Indonesia.

Hadirnya pemain-pemain naturalisasi di timnas Indonesia dengan sendirinya akan meningkatkan standar kualitas dalam perebutan posisi di timnas. Pemain-pemain muda harus berlatih lebih keras agar bisa menembus timnas yang sudah ditempati oleh pemain-pemain naturalisasi, yang memang secara kualitas mereka berada di atas pemain-pemain lokal Indonesia. Ketika orang-orang berteriak terhadap naturalisasi dengan alasan akan mematikan pemain-pemain muda Indonesia, sebenarnya mereka justru meremehkan kualitas pemain-pemain muda Indonesia. Apakah artinya pemain-pemain muda Indonesia tidak akan mungkin bisa masuk timnas karena mereka pasti kalah bersaing dengan barisan pemain naturalisasi ? Sebegitu buruk kah pemain-pemain muda yang dimiliki tanah air ini ? Sebegitu burukkah kualitas anak-anak bangsa ini ? Tidak, mereka tidak seburuk itu. Pemain naturalisasi bukanlah tidak mungkin dikalahkan oleh pemain lokal. Mereka semua sama-sama manusia yang bisa belajar dan berkembang. Pemain sepakbola Indonesia tidak dikutuk untuk selalu memiliki kemampuan di bawah pemain asing. Mereka mampu !
Buktinya mana ? Jawaban saya adalah : tolong tunjukkan 1 striker asing di Liga Indonesia yang lebih hebat dari Boaz Solossa ? Jika memang ada yang lebih hebat, kenapa Boaz sering menjadi Top Score di Liga Indonesia ?
Boaz telah membuktikan bahwa pemain lokal juga bisa lebih baik dari pemain asing di Indonesia. Dia telah mengalahkan nama-nama seperti Cristian Gonzales, Aldo Baretto, Greg Nwokolo dll.

Menyelesaikan sebuah masalah bukanlah dengan cara membuat masalah tersebut menjadi kecil, tetapi perbesarlah kemampuan dan kualitas kita agar kita mampu memecahkan masalah tersebut.
Bukan dengan menurunkan kualitas persaingan di timnas dengan mengharamkan pemain naturalisasi tetapi bekerjalah lebih keras pemain-pemain lokal Indonesia, agar mampu mengalahkan para pemain naturalisasi dalam perebutan posisi di timnas.

Terbanglah yang tinggi Garudaku!

Oleh: moulthe13th | Juli 3, 2011

Alfred Riedl Menuai Kritik dan Hujatan

Selepas mengumumkan skuad Timnas Senior dan U-23 Indonesia, Pelatih Kepala Alfred Riedl menuai banyak kritik pedas dan hujatan dari masyarakat pecinta sepak bola Indonesia. Hasil dari pantauan di goal.com, lebih dari 300 komentar terhadap berita ini, sekitar 90% menghujat dan mengkritik keputusan Riedl. Di situs jejaring sosial Facebook telah muncul group “1.000.000 aksi dukung Jacksen F. Tiago menjadi pelatih Timnas Indonesia”, akibat dari kekecewaan skuad pilihan Riedl. Belum ditambah dari obrolan2 masyakat yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Banyak faktor yang melatarbelakangi kekecewaan pecinta sepak bola tanah air. Mulai dari hanya 3 pemain sang kampiun ISL yang masuk skuad timnas senior, tidak adanya pemain LPI yang sudah mulai dirangkul oleh Komite Normalisasi (KN), tidak adanya 3 nama pemain naturalisasi teranyar Indonesia di tim U-23, masih munculnya nama-nama lama yang meredup dalam ISL musim ini, munculnya nama-nama baru yang kualitasnya tidak mumpuni serta tidak dipanggilnya beberapa pemain lama yang bersinar di ISL musim ini.

Sebuah kabar gembira hanya dengan dipanggilnya kembali striker terbaik Indonesia, Boaz Solossa. Aksi impresifnya di ISL sehingga namanya tercatat sebagai top score dan best player menjadi alasan yang sangat pantas Bochi diberi kesempatan kedua untuk membela timnas. Inilah pemain pertama dari kampiun ISL, Persipura. Siapa 2 pemain lainnya? Jawabannya adalah Ricardo Salampesy dan Hamka Hamzah. Apa sebenarnya yang ada di dalam benak Riedl memanggil 2 pemain yang sedang bergelut dengan cidera dan tidak tampil maksimal sepanjang musim. Kenapa juga tidak ada nama Gerald Pangkali sang penyeimbang lapangan tengah Persipura yang bermain konsisten sepanjang musim. Kenapa juga Titus Bonai tidak diberi kesempatan kedua seperti halnya Bochi. Tibo memang tidak meraih gelar pribadi, tapi dia sering melahirkan gol-gol penting untuk tim-nya melalui aksi individu di atas rata-rata. Belum lagi nama Louis Kabes dan yang lainnya.

Sempat berhembus kabar gembira saat KN mulai merangkul LPI untuk bergabung di PSSI dan mulai dipanggilnya puluhan pemain LPI termasuk Irfan Bachdim, Kim Kurniawan dan Andik Vermansyah dalam seleksi timnas U-23 di bawah asuhan Rahmad Darmawan baru-baru ini. Timnas U-23 ditargetkan untuk meraih medali emas Sea Games, tetapi komposisi pemainnya sangat-sangat meragukan. Yongki Aribowo yang menjadi andalan di lini depan, tidak berhasil menunjukkan penampilan yang menjajikan di ISL musim ini bahkan hanya sekedar menjadi pemain inti. Hal ini sangat bertolak belakang dengan performa dari Irfan Bachdim dan Andik Vermansyah. Kemampuan kedua pemain ini tidak hanya terlihat di LPI tahun ini, yang secara kualitas kompetisi memang jauh di bawah ISL, tetapi sudah terlihat di Piala AFF (Irfan Bachdim) dan ISL serta Divisi Utama musim sebelumnya (Andik Vermansyah). Kenapa pemain ISL tidak dipanggil padahal jelas-jelas kualitas mereka di atas rata-rata? Apa karena mereka bermain di LPI? Ayolah Mr Riedl, jangan memecah belah kembali atmosfer sepakbola Indonesia yang sudah mulai membaik.

Secercah harapan merebut medali emas mulai terlihat kala PSSI menaturalisasi Ruben, Diego dan Joey Suk. Tetapi harapan itu hancur seketika saat Riedl mengumumkan skuad U-23nya. Kenapa nama mereka tidak ada, padahal PSSI sudah resmi mengumumkan bahwa proses naturalisasi mereka sudah beres. Buat apa menaturalisasi mereka jika mereka tidak dipanggil. Apa kualitas mereka masih di bawah nama-nama lain yang masuk skuad U-23 ? Bukankah Riedl sendiri yang memilih dan mereferensikan mereka untuk dinaturalisasi. Atau justru PSSI yang membuat kebohongan publik dengan mengatakan proses naturalisasi mereka sudah beres padahal belum.

Nama-nama seperti Markus Horison yang terkenal dengan blundernya dan musim ini klubnya terperosok ke papan bawah, BP yang tidak berkembang di Timnas belakangan ini, Gonzales yang produktivitasnya menurun tajam. Belum lagi nama-nama seperti Arif Suyono, Eka Ramdhani, M. Roby dan Tony Sucipto yang bermain biasa-biasa saja masih tetap dipanggil. Maksud hati Riedl juga ingin memanggil muka-muka baru untuk regenerasi, tetapi kenapa Gunawan Dwi Cahyo yang kerap membuat blunder di lini belakang dan Wahyu Wiji Astanto yang walaupun pernah berlatih di Belanda bersama team Asian Games serta memiliki tinggi 191 cm tetapi belum teruji kualitasnya bermain di level tertinggi justru dipanggil. Belum lagi membicarakan muka-muka lama yg bersinar tetapi tidak tercantum di daftar pemaian. Sebut saja Budi Sudarsono yang musim ini mencetak 11 gol hanya sebagai pemain cadangan. Dibandingkan BP, jelas prosentase produktivitas per pertandingan Budi jauh lebih bagus. Apalagi berbicara kemampuan memegang bola, melewati lawan dan tendangan-tendangan keras nan akurat.

Memang benar pemilihan pemain menjadi hak penuh Riedl sebagai pelatih kepala dan belum tentu penilaian pecinta sepak bola tanah air juga benar masalah komposisi pemain. Bisa jadi pilihan pecinta sepakbola tanah air hanya berdasarkan like n dislike, penilaian orang awam sepakbola dan fanatisme klub/daerah. Tetapi kenapa kami selalu setuju dengan skuad tim-tim dunia seperti Spanyol, Inggris, Belanda dll. Kami selalu sependapat bahwa mereka adalah pemain terbaik di negaranya. Dan memang, hasilnya pun memuaskan. Atau Riedl akan menjadi Maradonanya Timnas Indonesia, yang memilih pemain-pemain aneh dan terbukti hancur lebur.

Satu-satunya kelebihan Riedl adalah dia pemegang hak penuh penentuan siapa yang akan masuk skuad Indonesia dan pecinta sepakbola tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya (terpaksa) mendukung tim bentukannya. Semoga Tim-tim ini mampu berprestasi dan membanggakan pecinta sepakbola Indonesia. Karena jika gagal sedikit saja sudah pasti hujatan akan lebih deras dari yang ada saat ini.

Berikut adalah skuad timnas senior:

Kiper: Markus Horison (Persib Bandung), Ferry Rotinsulu (Sriwijaya FC), Kurnia Meiga (Arema Indonesia).

Bek: Hamka Hamzah (Persipura Jayapura), Ricardo Salampessy (Persipura Jayapura), Muhammad Roby (Persisam Putra Samarinda), Gunawan Dwi Cahyo (Sriwijaya FC), Wahyu Wiji Astanto (Persiba Bantul), Mohammad Nasuha (Persija Jakarta), Beny Wahyudi (Arema Indonesia), Zulkifli Syukur (Arema Indonesia), Supardi (Sriwijaya FC).

Gelandang: Oktovianus Maniani (Sriwijaya FC), Arif Suyono (Sriwijaya FC), Muhammad Ridwan (Sriwijaya FC), Muhammad Ilham (Persija Jakarta), Firman Utina (Sriwijaya FC), Ahmad Bustomi (Arema Indonesia), Eka Ramdani (Persib Bandung), Tony Sucipto (Persija Jakarta), Egi Malgiansyah (Pelita Jaya).

Striker: Cristian Gonzales (Persib Bandung), Bambang Pamungkas (Persija Jakarta), Boaz Salossa (Persipura Jayapura), Ferdinand Sinaga (Persiwa Wamena).

Berikut adalah skuad timnas U-23:

Kiper: Johan Angga Kusuma, Rifki Deython Mokodompit, Chairul Nasri.

Bek: Abdul Rachman, Irfan Raditya, Septia Hadi, Djayusman Triasdi, Fauzan Djamal, Joko Sidik, Hasim Kipau, Herry Susilo.

Gelandang: Dendi Santoso, Stevie Bonsapia, Zulham Zamrun, Joko Sasongko, Mahadirga Lasut, Johan Juansyah, Hendro Siswanto, Munadi, Dedy Kusnandar.

Penyerang: Yongki Aribowo, Jajang Mulyana, Patrick Wanggai, Rishadi Fauzi, Aris Alfiansyah.

_____________________________________

Oleh: moulthe13th | Juni 22, 2011

Teman bukan Daun Salam dan Lengkuas

Jangan perlakukan teman seperti daun salam dan lengkuas. Ketika kita akan memasak maka kita rela memanjat tinggi-tinggi pohon salam untuk memetiknya dan menggali dalam-dalam untuk mengambil lengkuas. Tetapi saat masakan sudah jadi dan akan kita hidangkan lengkuas dan salam kita ambil dan buang dari masakan kita karena kita anggap mengganggu.

Mungkin jika daun salam dan lengkuas memiliki perasaan seperti teman-teman kita pasti mereka akan pergi jauh-jauh dari kita. Akibatnya sudah pasti masakan kita akan hancur rasanya karena tidak ada lagi daun salam dan lengkuas yang melengkapi cita rasa.

Terkadang tanpa kita sadari, atau justru yang paling parah adalah memang kita sengaja, kita selalu melibatkan teman di saat kita membutuhkan mereka untuk menopang kita berdiri. Tetapi saat kita sudah pandai berlari, kita akan meninggalkan mereka karena merasa mereka justru menjadi beban dan membuat kita tidak bisa berlari secepat apa yang kita mau.

Dan herannya, kita akan kembali dihampiri oleh teman kita, atau bahkan kita yang menghampiri mereka dengan merengek dan memelas, saat kita kesandung kemudian terjatuh dan kaki kita terkilir.

Ada beberapa dari mereka yang dengan ikhlas menerima kita kembali, tetapi banyak juga dari mereka yang sakit hatinya tak jua terobati. Bagaimana jadinya jika kita mengalami hal terburuk mereka semua sakit hatinya dan tak jua terobati ? Sanggupkah kita berdiri dan berjalan sendiri saat kaki kita terkilir ? Mungkin ada yang sanggup, tapi pertanyaannya adalah seberapa lama ?

—————————ooo————————–

Sekarang situasi kita balik. Jika kita berada di posisi sebagai daun salam dan lengkuas, apa yang akan kita lakukan?

—————————ooo————————–

Saya yakin, banyak diantara kita yang akan menjawab lebih cepat dibagian tulisan ke dua dibandingkan dengan tulisan yang pertama dimana kita memikirkan banyak kemungkinan. Benar tidak ya?🙂

—————————ooo————————–

“Kita akan mulai merasakan betapa berharganya sesuatu yang kita miliki sekecil apapun saat sesuatu tersebut menghilang entah kemana”

Oleh: moulthe13th | April 13, 2010

Identifikasi Penyakit dari Warna Air Seni

Tahukah Anda, perubahan warna, bau dan konsistensi urin bisa menjadi petunjuk penting status kesehatan seseorang? Urin bisa mengungkapkan apa saja yang kita makan, berapa banyak air yang sudah diminum dan penyakit apa yang sedang diderita. Analisa urin untuk mengingip kesehatan telah dikenal sejak ribuan tahun lalu.

Menurut Tomas Griebling, MD, MPH, ahli urologi dari University of Kansas, urin ibarat jendela untuk melihat apa yang terjadi dalam tubuh. “Berbagai hal yang bersirkulasi dalam tubuh, termasuk bakteri, jamur, protein, gula, akan keluar lewat air seni atau urin,” katanya. Tubuh kita juga mengeluarkan kelebihan air dan “sampah” yang sudah difilter oleh ginjal melalui urin. “Fungsi utama urin adalah membawa zat-zat toksin keluar dari tubuh agar tidak menumpuk di tubuh dan berdampak buruk bagi kesehatan,” papar Anthony Smith, MD, ahli urologi.

Itu sebabnya, bila kita menemukan adanya perubahan warna atau bau yang tidak biasa dari urin (di luar jenis makanan yang dikonsumsi), bisa jadi itu adalah pertanda adanya gangguan kesehatan. Warna kuning dalam urin berasal dari pigmen warna yang disebut urochorme. Warna urin yang normal adalah kuning hingga kuning pucat. Warna kuning gelap merupakan tanda tubuh kekurangan air. Sebaliknya, warna urin yang terlalu bening bisa menjadi tanda Anda terlalu banyak minum air atau sedang mengonsumsi obat diuretik (penyerap air yang membuat volume urin bertambah). Warna urin juga bisa berubah-ubah sesuai dengan makanan yang kita asup. Misalnya makan wortel bisa membuat warna urin menjadi agak oranye, sedangkan obat-obatan juga bisa mengubah warna urin. Yang perlu diwaspadai adalah jika warna urin menjadi agak kemerahan karena itu bisa menjadi tanda adanya darah dalam urin. “Bila Anda melihat ada darah dan warna urin agak gelap, itu bisa menjadi tanda adanya infeksi,” kata Smith. Normalnya, urin tidak punya bau yang kuat. Bila Anda mendapati bau yang tajam, bisa jadi Anda terkena infeksi atau batu ginjal yang sering menimbulkan bau amonia. Sedangkan bau manis yang menguap dari urin bisa menjadi tanda penyakit diabetes.

Oleh: moulthe13th | April 6, 2010

Kebiasaan Minum Soda Bisa Menurunkan Jumlah Sperma

Pria yang mengonsumsi sekitar satu liter minuman bersoda setiap hari bisa membahayakan kehidupan seks mereka. Berdasarkan sebuah penelitian di Denmark, pria yang mengonsumsi minuman bersoda berlebihan bisa menurunkan jumlah produksi dan kualitas sperma.

Hasil penelitian itu menemukan, jumlah sperma pria yang rutin minum minuman bersoda hampir 30 persen lebih rendah dibandingkan yang tidak. Penemuan ini terungkap berdasarkan studi di Denmark yang meneliti efek dari minuman ringan pada kesehatan pria.

Namun, penelitian ini juga menuai kontroversi. Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, minuman bersoda tidak terlalu mempengaruhi kesehatan reproduksi pria. Meski pria memiliki jumlah sperma yang sedikit, mereka tetap bisa memberikan keturunan.

Jika dikaitkan dengan kafein yang terkandung dalam minum bersoda, menurut peneliti kopi tidak berefek turunkan jumlah sperma. Jensen, pemimpin penelitian ini mengatakan, hanya sedikit penelitian yang melihat dampak kafein pada kesehatan reproduksi pada pria. Namun, efek buruk dari minuman bersoda akan meningkat jika gaya hidup peminumnya juga tidak sehat.

Lebih dari 2.500 pria muda dilibatkan dalam studi ini. Para partisipan yang tidak mengonsumsi minuman bersoda memiliki kualitas sperma lebih baik, yang rata-rata 50 juta sperma per mililiter semen dan cenderung memiliki gaya hidup sehat.

Sebaliknya, 93 partisipan yang minum minuman bersoda lebih dari satu liter sehari hanya 35 juta sperma per mililiter. Namun, mereka juga memiliki kebiasaan terlalu cepat, dan kurang asupan buah dan sayuran. Studi ini dipublikasikan dalam ‘American Journal of Epidemiology’.

Older Posts »

Kategori